Sebuah rahasia masa kecil tentang Par-Sorong (dan kini tidak menjadi rahasia lagi)

February 26, 2008 at 4:35 am 2 comments

sorong.jpg

Pertama, aku juga selalu tertarik mengikuti parsorong di tiga sardolok. Entah kenapa aku selalu merasa ada sesuatu yang membuat ku tergerak, sekedar mengikuti langkah-langkah parsorong. Ada sebuah pilihan yang akan ku tempuh jika suatu hari masa kecilku untuk berbeda dengan dengan bebrapa teman lainya.pendeknya aku mempunyai “kelainan tersendiri” merasa pekerjaan parsorong adalah suatu pilihan pekerjaan yang mengasikkan, menyenangkan hingga aku pernah di cemooh natturangku, yang sedikit bernada sinis terhadap parsorong, seperti umumnya orang sardol. Alhasil, aku juga terpengaruh perspektif menanggapi parsorong.

Tak berapa lama, kira kira kelas 3-6 sd, aku sering “nyambi” jadi tukang sorong. Berangkat dari keinginan yang menggebu-gebu melihat bagaimana tukang sorong, terutama-oh-ketika dia menghitung uang seratusan dan uang benggol menyulap daya tarik.

Rumahku yang tak jauh dari pajak memuluskan jalanku untuk mengeluti menjadi parsorong cilik. Namun profesi ini kulakukan dengan sembunyi-sembunyi, takut jika ketahuan tetangga atau bapak (umumnya umur segini anak di sardol takut terhadap bapak atau ibu). Bapak ku yang pegawai negeri (mantan guru) mungkin mempunyai penghasilan yang memadai untuk menyekolahkanku, atau berkecukupan (walau terakhir ini aku menjumpai data-data bahwa dulu keluarga kami tak berkecukupan-ada beberapa banyak kwitansi hutang yang aku temukan di rumah). Alasan itu lah yang menjadi ketakutan ku, seperti yang juga sering di sebutkan hade-hade (family), terutama nanturangku “ngak cocok kau marsorong, malu-malu kan keluarga aja kau, bapakmu pengurus gereja-sy.pen-pegawai negeri, seperti yang kurang saja kau rasa”.

Tapi hal itu aku ingat tak menyurutkan keinginanku untuk marsorong. Tapi juga aku masih sembunyi-sembunyi, Jika ketika aku marsorong ada tetangga atau nanturang atau mamak, aku langsung menjatuhkan sorong, seolah aku tak sedang marsorong. Pura-pura ngak tahu.

Tak ada susahnya marsorong, karena pada dasarnya keluarga yang mempunyai lading, sudah mendidik anak marsorong dengan beko atau sorong biasa ngambil air dari aek cina/harangan. Cuma selalu beda jika kau marsorong i tiga (parsorong seperti pekerjaan yang kurang pantas, lalu pekerjaan apa yang pantas?).

Awalnya aku hanya mengikuti temanku, yang memang di setujui orang tuanya untuk marsorong (dia selalu berbagi keuntungan dengan bapaknya-eksploitasi?) Sebab memang saat itu bapaknya menyewakan sorong (simarmata jalan pasar). Hingga pada waktu berjalan, atau sekitar kelas 5 sd , aku mulai solo (sendiri/single). Marsorong sendiri namun tetap sembunyi-sembunyi.

Aku selalu mempunyai jajan ke esokan harinya. Aku ingat rp.300/rabu minimal aku dapat. Perbandinganya -godok-godok atu kue bulat @ rp. 25/biji. Aslinya aku tak peduli dengan jajan ke sekolah, aku ingat juga hanya hari minggu dan rabu aku dapat jajan (nice behavior). Terakhir/maksimal dalam masa kanak 2 rp.250 hari minggu dan rp.500 hari rabu dan rabu itupun karena saya membantu mamak menjaual air ke par napuran (sirih).

Puncak karirku marsorong dengan sembunyi-sembunyi hingga temanku memberi julukan parsorong borngin (parsorong malam) kualami dalam pertengahan kelas enam. Ini jelas karena tidak memungkinkan aku marsorong sore karena ketakutanku.

 

Ada kenyataan yang lain ku dapatkan ketika suatu kali aku dengan telak terpergok mamak marsorong. Tak bisa mengelak lagi. Dalam pikiran dan hati aku merasa ketakutan yang besar hingga tak mau/berani aku pulang ke rumah, walau jam sudah ada di angka 21.30. Tapi aku akhirnya pulang dengan mengasah keberanian. Apa yang aku jumpai? Kenyataan memang kadang tak seperti yang di bayangkan. Mamak ku malah menganggap bahwa ia sepertinya merasa bersalah bahwa mungkin ia tak selalu ingat memberi jajan ke padaku di hari rabu.

Jika sekarang aku ingin menjawab mamak ku, bahwa bukan dan bukan karena ia lupa memberiku jajan. Bukan mak . Aku ingat ke sedihanya puluhan tahun yang lalu ketika tahu aku marsorong. “dulu aku marsorong, karena aku sangat menginginkanya. Ada sesuatu yang menarik jiwa kecilku saat itu. Ada pilu yang menyayat pada sosok itu. Ada pengalaman demi pengalaman dalam interaksi mereka dengan pelangganya , ada kesedihan mereka. Ada etos kerja tradisi. Ada keinginan menggunakan hasilnya untuk berjudi. Ada tenaga yang di bayar tak sebanding. Ada bermacam cakrawala yang membuka tabir perjalanan hidup sebahagian manusia yang tak selalu menjadi besar dan yang kecil”

Mengapa kau mem-foto parsorong (mase pala i gabbar-i ho parsorong ai)?”tanya teman ku dengan sedikit kecewa, sesaat sebelum momen dalam foto itu aku beku-kan dengan kamera. Aku tak menjawab, atau membela dengan berapi api, atau menjelaskan di mana sisi humanis nya BAGIKU. Aku hanya menjepretkan kameraku dua kali lalu mengikutinya dari belakang. Ia tak ku kenal (parsorong ai). Ia baru aku lihat. Semuanya berubah, sorong tak mendominasi lagi alat angkutan barang di saribudolok. Penyewaan sorong pun sudah sedikit. Dan yang mau marsorong pun katanya telah berkurang. Aku tak tahu karena apa. Yah semua berubah seperti keabadianya. Semoga Persorong kini dianggap sama seperti kebanyakan orang.

Entry filed under: SAHAP I KODE. Tags: .

TUYUNG (TERONG BELANDA)=Tambah darah?? Am 04.30 SIAPA?

2 Comments Add your own

  • 1. saribudoloksilimakuta  |  February 26, 2008 at 4:50 am

    buat bang tamsir. itu sedikit ke bersentuhan ku dengan parsorong. namun jelas berbeda dengan abang yang dari parsorong melalnglang buana ke penjuru dunia. aku dari parsorong yang sembunyi-sembunyi jadi pengganggur yang sembunyi-sembunyi hahahaha

    Reply
  • 2. LOTR  |  February 27, 2008 at 7:45 am

    mungkin commentku ini gak relevant ya…tapi menurutku masih ada hubungannya sama yang namanya kerja keras. bagiku, apapun yang diputuskan seseorang untuk memilih profesinya, ya…sah – sah aja. mau itu parsorong, kuli, tukang pikul, ato dengan segala begu attuklah istilahnya, selama pekerjaan itu nggak merugikan orang lain….ya….the show must go on lah! gak ada yang perlu untuk disesali justru harusnya bangga, sisi humanismu nggak hilang dimakan jaman. apalagi dijaman sekarang ini sangat sulit bagi manusia untuk mamanusiakan manusia ( haaah…apalagi tuh ?!?!)
    walaupun kamu waktu itu masih kecil, tapi nalurimu untuk bertahan hidup dan peka sama masalah keluargamu ( hal yang jarang bisa dilakukan anak jaman sekarang, karna maunya hidup enak terus,tanpa mau usaha) patut untuk diacungi jempol. yang aku tau (sesudah m’bacanya loh ya),tujuan dari tulisanmu ini adalah HIDUP PATUT UNTUK DIPERJUANGKAN DENGAN CARA HARD N SMART WORK !!!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 68,789 hits

%d bloggers like this: