Am 04.30 SIAPA?

March 4, 2008 at 8:14 am 1 comment

Ini sebuah hari di Bali.

Jangan kira setiap menyebut Bali, akan terlintas kata pariwisata dan berwisata di sana. Aku di Bali, sama seperti di tempat lain. Sama seperti di Jombang, Kediri, Sukabumi. Setiap perjalanan ke suatu tempat adalah sebuah perjalanan biasa yang kadang menjumpai pengalaman, cerita dan perenungan.

Alasanya kepergian? Sama di manapun, adalah supaya aku tak lagi me-rindu ke kampungku Saribudolok Silimakuta. Aku ingin ada di kampung lain.Terlalu berat jika harus berumah di Kampungku.
Kuteruskan saja ceritaku di Bali. Jam 04.30. Baru saja aku berdua teman pulang dari memancing. Ada lampu merah di jalan By pass Ngurah Rai yang memotong Benoa (pelabuhan) dengan daerah suci psanggaran (denpasar bagian timur).

Lampu merah menggerakkan disiplin berlalu lintas kami , yang tertanam semenjak lama. Saat lampu merah, kami masih berdua di atas motor dan di jalan raya. Lalu temanku melihat seorang manusia, berbaju puttih bercelana kain hitam berkulit hitam di terpa temaram lampu jalan. Ia tergolek di antara pembatas jalan dua arah yang di tanami tanaman hias. Batas itu di buat dari paping merah (batu trotoar), berukuran sekitar 180 kali 150, begitu kira-kira taksiranku.
Temanku-lah yang pertama berkata, “kenapa tuh bang?” kemudian aku menoleh ke arah bidang paping tempat manusia yang tergolek itu ” tidak tahu” jawabku. Pada awalnya aku kira dan mungkin juga temanku kira bahwa sosok itu kenapa-kenapa. Tidak umum orang tidur di tempat seperti itu. Maka terlintas asumsi/perkiaraan bahwa ia sedang mabuk/teler.” mabuk kali!” kataku pada temanku . Aku ingin memastikan, apakah dugaanku benar. Kulihat ia, melihat perutnya apakah masih kembang-kempis pertanda ia masih bernafas.

Oh syukurlah ia masih bernafas. Namun aku rasa tak cukup sampai di situ. Aku melihat-i-nya sekali lagi dari kaki hingga kepala. Posisinya tidur, pakaianya, lipatan tanganya, wajahnya, bajunya , semua bentuk yang tersaji. Kakiku sudah hendak kulangkahkan menuju ke dekatnya. Ingin memastikan tiada darah, pertanda ia bukan korban tabrak lari atau korban penikaman. Kutanyakan ke pada temanku apakah ia melihat darah. Namun temanku tak melihatnya juga. Itupun masih dengan ragu-ragu ingin kulangkahkan dan memastikan lagi. Kaki ku tetap di atas aspal sebelah. Pantatku masih empuk menduduki jok motor. Lalu datanglah seorang bapak yang bersepeda motor yang sama heran-nya dengan kami atau saya. Ia katakan ia tak melihat nafas sedikit pun. Aku katakan pada bapak itu bahwa ada nafasnya. Bapak itu menajamkan pandangan. Yah, dia melihat nafas dari kembang-kempis nya perut. “orang gila” katanya. Bapak itu hendak ke pasar.

Di belakangnya menyusul seorang ibu dengan sepeda motor yang membawa dua karung entah berisi apa. Ia juga kelihatanya hendak ke pasar. Melihat ke heranan kami, keheranan aku, temanku, bapak itu, ia pun menjadi heran. Di majukanya motor hingga bisa melihat. Bapak yang tadi mengulang kembali, seakan memberi informasi pada si ibu ” orang gila” katanya kembali. Ohow. Sekarang aku mendapat analisa lain lagi. Selain ia yang ku anggap pemabuk, kini bertambah dengan kata orang gila. Lalu lampu hijau. Kita meneruskan perjalanan.
Sepanjang jalan menuju tempat peristirahatan kami aku berpikir atas kejadian yang cuma 3 menit tadi. Detail ku ingat tempat, ruang, suasana/nuansa. Aku ingat wajah orang itu. Aku ingat analisa ku tadi, antara pemabuk dan orang gila.

Entah mengapa aku mengagumi tidurnya, mengagumi kembang-kempis nafasnya, tempat ia berbaring. Apa yang mendorongku. Benarkah ia pemabuk, benarkah ia orang gila atau ia orang yang sekarat. Terlalu berat jalan melangkah memastikan hal itu kembali. Namun aku tetap kagum. Hingga timbul dalam pikiranku bahwa aku ingin sepertinya (jika ia hanya tertidur, walau ia gila atau mabuk). Aku ingin tidur di sela-sela lampu merah dan trotoar pembatas. Begitu menikmati jikalah bisa seperti yang di alaminya. Ah.. Aku ingin sepertinya. Namun aku pikir lagi…. siapa yang akan menjadi aku ? yang dengan ragu-ragu dan mengenggankan untuk turun dari atas jok empuk motor untuk memastikan orang yang tidur di pembatas trotoar lampu merah masih bernafas, atau gila atau mabuk. Siapa? Tapi aku lebih memilih untuk menjadi sepertinya. Mungkin nikmat bagai saat ini.

Kejadian itu hanya bebrapa saat kurasa. Tidak ada beberapa menit pun. Hingga kini pun ku coba rasa/ meraba dan men-seting ulang bila aku memilih menjadi si pemabuk/orang gila yang tidur. Siapa yang akan menjadi aku, siapa yang akan menjadi temanku, siapa yang menjadi bapak itu, siapa yang akan menjadi ibu itu. Lebih dalam lagi mungkin aku harus mencari siapa yang menjadi sepetak tempat pembaringan si gila/pemabuk. Siapa yang menjadi lampu merah yang memberhentikan tiga motor di belakang. Siapa yang mendorong ke engganan si aku untuk turun dari motor, siapa yang menyepakati kita dan mempengaruhi kita untuk mengambil satu suara bahwa kita tak harus singgah atau melihat dengan detail apakah ia gila /pemabuk . Aku rasa tak bisa aku jawab sekarang, karena sudah pagi. Matahari sudah terbit. Waktu dan ruang dan bentuk yang seperti ini mungkin cuma sekali terjadi. Walau hanya 3 menit. Aloha…5.45 Denpasar.04/03/08

aku masih bertanya-tanya …

Entry filed under: SAHAP I KODE. Tags: .

Sebuah rahasia masa kecil tentang Par-Sorong (dan kini tidak menjadi rahasia lagi) BAWANG ON INANG (TIGA SARDOL)

1 Comment Add your own

  • 1. khitonk mbom  |  April 26, 2010 at 3:47 am

    mantab…….

    da pto yg lbh bnyak n kliatan jlas sribudolokna ga…??/

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 68,789 hits

%d bloggers like this: